Pukul 2 siang aku berjalan menyusuri hamparan padang pasir menuju arah selatan. Terik matahari yang menyengat kulit tiada pernah menghentikan kakiku yang melangkah berat sambil menendang - nendang pasir yang putih berkilau.Terus aku berjalan tanpa teman, tanpa niat .. hanya seakan - akan aku memenuhi sebuah undangan.
Laut pantai selatan ... mengundangku untuk datang bertandang. Tak nampak sesosok bayanganpun melintas di sana . Hanya pantai yang biasanya dihiasi ombak besar dan tinggi itu hari ini nampak begitu landai ... tenang .. tanpa angin .. tanpa ada tanda- tanda kehidupan.
Ku arahkan pandanganku ke timur, ada ombak di ujung sana. Aku ingin bermain - main dengan ombak . Namun ketika langkahku semakin ke timur .. ombak - ombak itupun menghilang dan pantai di depanku tetap melandai .. tenang ... tanpa angin.
Kembali ku arahkan pandanganku ke barat , yaa .. di sana aku melihat ombak besar berkejar - kejaran seakan memenggilku untuk datang . Aku berlari kegirangan seperti anak kecil yang melihat kawan - kawannya bermain.
Tapi semakin kukejar ke barat .. ombak itupun semakin berlari menjauh ke arah barat yang tiada bisa aku jangkau. Di depanku tetap pantai yang landai.
Dengan keputus asaan aku berpikir, mungkin pantai sengaja melandai untuk mengajakku berdamai . Berdamai dengan segala keangkara murkaan yang sedang menyesak di kepalaku . Perlahan tapi pasti ku langkahkan kaki terus keselatan menyambut salam kedamaian . Air pantai terasa begitu hangat menyambut kakiku yang semakin mantap melangkah hingga sebatas pinggang . Dan begitu takjubnya diriku ketika di depan mataku muncul kereta kencana dengan 12 ekor kuda gagah seakan menyambut kedatanganku.
Aku masih takjub memandang kagum kilauan emas yang menghiasi kereta kencana tak berkusir itu . Disaat niat hati untuk menaiki kereta indah itu .. tiba - tiba kudengar suara lantang memanggil namaku . Aku menoleh ke belakang . Nampak sesosok kakek tua tak berbaju , hanya mengenakan celana kusam hitam dan caping nelayan melambai - lambaikan tangannya ke arahku.
"Pulang nak !!! ... engkau salah jalaaan ... rumahmu ke utaraaaaaa ... bukan ke selataaaan !!!!! " teriakan kakek tua itu terdengar begitu jelas.
Aku masih terpaku di tempatku dengan air laut sebatas pinggangku. Kuda - kuda kereta kencana itu meringkik seakan memerintahku untuk segara naik. Kembali suara kakek itu lantang memanggilku " Pulaaang naaaak ..... lekas pulaaaaang !!! Engkau akan tersesat jika tetap di situuuu .. balikkan badanmuuuu ... dan jangan menoleh lagi ke belakaaang !!!"
Dan entah mengapa aku mengangguk dan menuruti perintah kakek tua itu. Aku berjalan ke utara tanpa ada keinginan untuk menoleh kebelakang.
Berat langkahku akhirnya sampai di daratan , namun aku masih terus melangkah sampai tepian padang pasir putih yang sudah tak lagi berkilau.
Kucari kakek yang memanggilku tadi , mataku berputar liar ... mulutku memekik namun tak seorangpun nampak bayanganya di sekelilingku.Dan ketika pandanganku mengarah ke pantai... ternyata pantai tak lagi landai. Ombak begitu besar dan tinggi disertai tiupan angin laut yang terasa mengerikan.
Tanpa berpikir seribu kali aku berlari .... aku terus berlari menjauh dengan seluruh ketakutanku. Ada suara tawa perempuan membahana di langit ... namun aku tak peduli . Aku terus berlari .... dengan menutup telinga dan memejamkan mata. Suara tawa itu makin jelas ... memenuhi langit . Aku tetap berlari .... sampai akhirnya aku benar - benar terjatuh di hamparan .....ah tempat tidurku.
Aku terbangun dengan napas sesak naik turun. Tubuhku basah bukan basah air laut tapi oleh peluh , dan tiupan kuat angin malam menerobos dari jendela kamarku yang terbuka.
Kuatur nafasku , bersyukur aku padaMu ya Tuhan ... ternyata aku hanya bermimpi.
Spore, 20 January 09
Dewi Maharani




No comments:
Post a Comment