Matahari baru terbit. Sinarnya yang lembut belum cukup untuk mengeringkan tetes embun. Di depan pondoknya di pinggir hutan kakek itu membiarkan dadanya yang bidang dihangatkan oleh sinar matahari pagi. Usianya sudah lewat 60 tahun tapi karena kesehariannya ia adalah seorang guru silat, tubuhnya masih terlihat kekar. Otot-ototnya menampakkan kekuatan yang tersembunyi dalam raga wadagnya. Tak lama kemudian ia mengikat kepalanya dengan destar. Dan lengkaplah kegagahannya. Di dunia persilatan tak ada pesilat yang tidak tunduk kepadanya. Jangan kata pesilat dekat-dekat, pesilat dari seberang lautan yang sengaja datang untuk mencoba kedigjayaannya paling kuat bertahan hanya dalam 4 jurus.
Dia sangat disegani dalam dunia persilatan. Jujur, bijak, bajik, sederhana. Suaranya lembut ketika berbicara. Bertolak belakang dengan keadaan badannya yang menimbulkan kesan berkoar. Hari ini ia akan turun hutan (bukan turun gunung karena tidak tinggal di gunung). Ia masih menunggu murid kecilnya bangun. Ia membiarkan muridnya menyambung tidur setelah kegiatan mereka sejak dinihari hingga fajar tampak. Mengulang 40 jurus yang telah diajarkan oleh sang guru, ketika dingin pagi, dengan perut yang hanya diisi segelas air hangat dan sebongkah kecil gula merah, ketika anak-anak kecil seusianya masih lelap. Murid kecil ini memang berbakat. Tak ada keluhan yang keluar dari mulutnya, Jika gurunya memberi celah kesempatan yang dimintanya ialah izin untuk tidur.
Tak banyak yang bertahan lama menjadi murid. Disiplin yang tinggi, peraturan yang sangat ketat, membuat mereka kabur dari padepokan. Dan sang guru hanya senyum untuk semua kejadian itu. Pendekar ini sangat pinilih mengangkat murid. Tak sembarang orang tak sembarang anak. Banyak yang ditolaknya. Jika memaksa ia tidak menahan. Silakan tinggal di padepokan. Tapi memang pada awalnya sudah ditolak mereka yang memaksa itu kalah dalam serangan, tidak memenangi peperangan, bahkan tidak sedikit yang kalah sebelum berperang. Murid kecil yang satu ini punya cerita unik. Saat sang pendekar melakukan perjalanan ia lewat di sebuah desa, Di ujung kampung, dekat kuburan, ia melihat seorang anak sedang menangis terisak-isak. Ia berhenti dan dengan lembut ia bertanya.
Dia sangat disegani dalam dunia persilatan. Jujur, bijak, bajik, sederhana. Suaranya lembut ketika berbicara. Bertolak belakang dengan keadaan badannya yang menimbulkan kesan berkoar. Hari ini ia akan turun hutan (bukan turun gunung karena tidak tinggal di gunung). Ia masih menunggu murid kecilnya bangun. Ia membiarkan muridnya menyambung tidur setelah kegiatan mereka sejak dinihari hingga fajar tampak. Mengulang 40 jurus yang telah diajarkan oleh sang guru, ketika dingin pagi, dengan perut yang hanya diisi segelas air hangat dan sebongkah kecil gula merah, ketika anak-anak kecil seusianya masih lelap. Murid kecil ini memang berbakat. Tak ada keluhan yang keluar dari mulutnya, Jika gurunya memberi celah kesempatan yang dimintanya ialah izin untuk tidur.
Tak banyak yang bertahan lama menjadi murid. Disiplin yang tinggi, peraturan yang sangat ketat, membuat mereka kabur dari padepokan. Dan sang guru hanya senyum untuk semua kejadian itu. Pendekar ini sangat pinilih mengangkat murid. Tak sembarang orang tak sembarang anak. Banyak yang ditolaknya. Jika memaksa ia tidak menahan. Silakan tinggal di padepokan. Tapi memang pada awalnya sudah ditolak mereka yang memaksa itu kalah dalam serangan, tidak memenangi peperangan, bahkan tidak sedikit yang kalah sebelum berperang. Murid kecil yang satu ini punya cerita unik. Saat sang pendekar melakukan perjalanan ia lewat di sebuah desa, Di ujung kampung, dekat kuburan, ia melihat seorang anak sedang menangis terisak-isak. Ia berhenti dan dengan lembut ia bertanya.
“Mengapa kau menangis?”
“Saya sedih kek..”
“Hah, kau menyebutku kakek? Apakah aku sudah tua?”
“Sudah kek, rambut kakek, kumis kakek, jenggot kakek, sudah putih semua.”
Sang Pendekar terkesima. Ya, betul. Jika aku punya isteri, aku punya anak, dan anakku punya anak lagi, itu cucuku, dan aku ya kakek.
“Siapa namamu?”
“Johan.”
“Bapakmu?”
“Sadap”
“Ibumu?”
“Komariah”
“Ibumu di mana sekarang.”
“Di sana.”
Johan menunjuk ke sebuah tumpukan tanah sambil melap matanya dengan ujung lengan bajunya. Sementara ingus hijau meleleh dari hidungnya, mengalir lewat bibirnya. Tapi dengan sebuah hentakan isap ingus itu masuk kembali.
“Bapakmu”
“Pergi menyadap.”
“O, bapakmu tukang sadap aren, membuat gula aren?”
“Ya..”
“Di mana rumahmu?”
“Itu…”
Anak kecil itu menunjuk ke sebuah gubuk di seberang kuburan.
“Ayo antar aku ke rumahmu, aku ingin bertemu dengan bapakmu. Kebetulan aku juga perlu gula aren.”
Kedua orang itu –tampak sebagai kakek dan cucu- berjalan. Yang tua di depan.
“Johan, dulu aku pernah punya murid bernama Johan. Dia anak seberang, dari Malaka. Dia kusebut Johan Malaka. Kau mau tidak kuberi nama Johan Sedih. Aku beri nama itu karena aku bertemu denganmu ketika engkau merasa sedih. Kenapa kau merasa sedih?”
“Aku dipukuli anak kampung.”“Wah, kenapa kau tidak melawan?”
“Aku takut.”
Sunyi sebentar. Terdengar langkah mereka di tanah becek pekuburan.
“Kakek siapa?”
Johan Sadap menggeliat. Ia terbangun. Sang Pendekar senyum dan tak lama kemudian ia sudah siap dengan kaneronnya. Melihat ini Johan Sadap sigap bangkit, dan siap berangkat juga. Mereka –masih tampak sebagai kakek dan cucu- berjalan beriringan. Yang tua di depan. Kebisuan dalam perjalanan akhirnya cair oleh suara Johan Sadap.
“Kalau sudah besar aku juga tidak akan punya isteri. Aku ingin seperti guru. Perempuan itu membuat tenaga kita lemah. Perempuan itu membuat “chi” kita bocor.”
“Johan!”
“Ya, guru.”
“Kamu tahu “chi” itu apa?”
“Tidak guru.”
“La, kamu bisa bicara begitu dari mana, mendengar dari siapa?”
“Kan guru yang bicara.”
“Kapan, di mana?”
“Di pondok, waktu ada Pendekar Toba.”
“O, ya. Aku ingat. Johan”
“Ya guru.”
“Lain kali jika ada tamu kau harus jauh-jauh dari pondok ya.”
“Ya, siap guru.”
“Aku tidak beristeri karena aku telah bersumpah, jangankan beristeri, menyentuhnyapun aku tidak akan.”
Johan Sadap diam. Ia paham nada bicara gurunya. Dalam keadaan seperti ini lebih baik diam. Sunyi kembali. Desir angin ditingkah siulan burung meramaikan irama langkah di jalan setapak yang mereka lewati.Matahari sepenggalah mereka sampai ke sungai. Kampung tak jauh lagi dari sungai ini. Jika sungai ini telah diseberangi dan mereka mekanjutkan perjalanan diperkirakan mereka akan sampai sekitar tengah hari. Tiba-tiba dari kejauhan terlihat seorang wanita. Wanita itu tampak bingung.
“Guru, ada wanita.”
“Ya, aku tahu.”
“Tunggu di sini.Aku akan ke sana.”
“Guru.”
“Tunggu di sini!”
Johan mengiringi langkah gurunya dengan pandangan matanya. Semakin jauh darinya tapi semakin dekat kepada wanita itu. Lalu ia kaget. Matanya tak berkedip. Ia melihat gurunya menggendong wanita itu ke seberang. Lalu gurunya menghampirinya lagi.
“Ayo, kita lanjutkan perjalanan. Gunakan deras arus ini untuk melatih kuda-kudamu agar kuat.”
“Guru..”
“Ayo!”
Dan Johan Sadap masih di tengah sungai ketika gurunya sudah duduk di sebuah batu di seberang sana. Tantangan ini harus kulewati. Aku harus bisa. Kalau mau guru bisa saja menggendongku. Wanita tadi jauh lebih besar dari aku. Tapi guru melatihku untuk tabah. Tak ada pohon yang tumbuh subur dengan pupuk minyak wangi, begitu kata guru. Dan ini adalah pupuk. Baru saja Johan Sadap sampai ke pinggir gurunya telah berdiri, siap untuk melanjutkan.
“Guru..”
“Kau kuat, ayo berangkat.”
Setelah mendaki bukit dan menuruni lembah lembah beberapa kali mereka sampai. Di ujung kampung mereka istirahat.
“Satu kali istirahat, sampai juga ‘kan?”
“Ya guru.”
“Kau tidak mati ‘kan?”
“Tidak guru.”
“Nah sebentar lagi kau akan bertemu dengan bapakmu.”
“Terima kasih guru.”
“Ayo, bangkit. Bapakmu rindu. Dua tahun ia tidak melihatmu.”
“Guru….”
“Apa?”
“Boleh Johan bertanya.”
“Tanya apa?”
“Guru bersumpah untuk tidak menyentuh wanita tapi tadi aku melihat guru menggendong wanita dan menyebarangkannya.”
“Johan..Johan…kau masih membawa wanita itu? Alangkah beratnya bebanmu.” Murid kecil termangu-mangu. Butuh waktu yang lama bagi Johan Sadap untuk dapat memahami kata-kata gurunya.
Kotabaru, 19 Januari 2009.




No comments:
Post a Comment