Wednesday, February 11, 2009

Rintihan Roh

Diriwayatkan: “Jika roh telah keluar dari tubuh manusia dan telah lewat tiga hari, maka roh itu berkata: “Wahai Tuhanku, perkenankanlah aku sehingga aku berjalan dan melihat tubuhku yang dahulu aku berada di dalamnya.” Maka Allah memperkenankan kepadanya. Lalu ia datang ke kuburnya dan melihat kepadanya dari jauh. Kedua lubang hidungnya dan mulutnya mengalir darah. Maka ia menangis dengan suatu tangisan yang cukup lama. Lalu ia merintih, aduuuh hai tubuhku yang miskin, wahai kekasihku. Ingatlah akan hari kehidupanmu. Rumah ini adalah rumah serigala, bala bencana, rumah yang sempit, rumah kesusahan dan penyesalan.

Setelah lewat lima hari roh berkata: “Wahai Tuhanku, perkenankanlah aku untuk melihat tubuhku.” Maka Allah memperkenankannya. Lalu ia datang ke kuburnya dan melihat dari jauh. Dan mengalirlah kedua lubang hidung dan mulutnya berupa air nanah.
Firman Allah SWT bermaksud:

Mereka tidak dapat berbicara pada hari roh (Jibril atau ruhul qudus) dan para malaikat berdiri dengan berbaris.” ( An-Naba’: 38)

Disebutkan dalam satu keterangan, bahawa yang dimaksud roh itu adalah rohnya anak Adam (manusia), dan keterangan yang lain mengatakan bahawa roh itu adalah rohnya malaikat Jibril as. Juga ada keterangan yang menyebutkan bahawa roh itu adalah rohnya Nabi Muhammad SAW yang berada di bawah Arasy, ia minta izin dari Allah di malam Lailatul Qadar untuk turun memberikan salam penghormatan kepada seluruh mukminin dan mukminat dan roh itu berjalan melalui mereka.

Ada pula yang menyebutkan bahawa roh itu adalah rohnya para kerabat yang sudah mati, mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, semoga Engkau memperkenankan kami untuk turun ke rumah-rumah kami, sehingga kami melihat anak-anak kami dan ahli-ahli kami. Maka roh-roh itu turun pada malam Lailatul Qadar.

Sebagaimana Ibnu Abbas ra mengatakan: “Jika datang Hari Raya, hari Asyura’, hari Jumaat yang pertama dari bulan Rajab, malam Nisfu Sya’ban, Lailatul Qadar, dan malam Jumaat, roh-rohnya para mayat semua keluar dari kubur mereka dan mereka semua berdiri di pintu-pintu rumahnya seraya berkata: “Belas kasihanlah kamu semua kepada kami di malam yang berkah ini dengan sedekah satu suap, sebab kami memberikan sedekah. Jika kalian bakhil dengan sedekah, dan kamu sekalian tidak mahu memberikannya, maka hendaklah kalian mengingat kami dengan bacaan surah Al-Fatihah di malam yang penuh keberkahan ini.

Adakah seorang telah belas kasihan kepada kami, apakah dari salah seorang ada yang mengenangkan ratapan kami wahai orang yang menempati rumah-rumah kami, wahai orang yang menikmati wanita (isteri kami), wahai orang yang berdiri memperluas mahligai kami yang sekarang kami dalam kesempitan kubur kami, wahai orang yang membagi harta benda kami, wahai orang.yang menyiakan anak yatim kami. Adakah salah seorang dari kamu sekalian ada yang mengenang perantauan kami? Buku amal kami dilipat dan kitab amal kalian dibuka. Dan bukanlah bagi mayat yang berada dalam liang kubur melainkan pahalanya. Maka janganlah kalian melupakan kami dengan sebuku rotimu dan doamu, sebab kami orang-orang yang berhajat kepada kamu sekalian, selama-lamanya.

Jika mayat memperoleh sedekah dan doa dari mereka maka ia kembali dengan riang gembira, dan jika ia tidak memperoleh maka ia pulang dengan sedih dan duka serta terhalang, dan putus asa dari mereka.

Telah diterangkan, bahawasanya roh dalam perkumpulan haiwan tidak dalam seluruh tubuh, tapi ia dalam satu bahagian dari beberapa bahagian yang tidak dapat ditentukan dengan dalil. Bahawasanya seorang dilukai dengan luka-luka yang banyak maka ia tidak mati. Dan ia dilukai dengan luka-luka satu maka ia menjadi mati. Sebab luka itu jika menimpa pada tempat di mana roh bertempat di mana roh di dalamnya, dan bahawasanya roh bertempat pada seluruh tubuh dan bahawasanya mati itu dalam seluruh tubuh, maka Firman Allah SWT menunjukkan:

Katakanlah: “la akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama.”
(Yaa Siin: 79)

Jika dikatakan, apakah bedanya antara roh dengan rawan? Maka kita katakan hahwa keduanya adalah satu. Keduanya tidak ada perbedaan, sebagaimana tubuh serta tangan adalah menjadi satu. Cuma kalau tangan dapat bergerak kesana kemari tapi kalau tubuh sama sekali tidak bergerak. Demikian pula rawan kesana kemari tapi sama sekali tidak bergerak.

Kemudian mengenai tempatnya roh di dalam tubuh tidak dapat ditentukan. Adapun tempatnya rawan di antara kedua alis. Maka jika roh itu hilang seorang hamba menjadi mati, dan jika rawan hilang ia menjadi tidur. Sebagaimana air yang dituangkan qas’ah dan ditaruh di rumah ada matahari yang sinarnya melalui lubang atap dan qas’ah itu tidak bergerak dari tempatnya.
Maka demikian halnya roh bertempat di dalam tubuh dan pusatnya berada di Arasy. Adapun rawan melihat dikala bermimpi dan ia berada di alam malakut.

Adapun tempatnya roh setelah dicabut, ada diterangkan bahawa tempatnya disengkala yang didalamnya terdapat lubang sejumlah bilangan haiwan-haiwan yang dijadikan sampai hari kiamat. Jika ia mendapat kenikmatan berada di situ dan jika mendapat azab maka di situ pula.

Ada disebutkan bahawa roh-roh para mukminin berada dalam telur burung yang hijau di syurga iliyyin, adapun rohnya orang-orang kafir berada dalam telur burung yang hitam di neraka. Dan ada dikatakan bahawa rohnya para mukminin ketika dicabut, maka para malaikat rahmat sama mengangkat membawa naik roh ke langit yang tujuh dengan memuliakan dan mengagungkan. Kemudian dipanggil Zat pemanggil dari sisi Allah yang Rahman: “Hendaklah kamu semua menulis roh itu dalam Illiyyin lalu kembalikanlah ke bumi.”

Maka mereka mengembalikan roh seorang mukmin ke dalam tubuhnya dan ia dibukakan pintu syurga, ia melihat tempatnya di syurga sampai datangnya hari kiamat. Dan bahawasanya rohnya orang-orang kafir sewaktu dicabut maka para malaikat azab sama membawa naik roh itu ke langit dunia. Maka ditutuplah pintu-pintu langit yang lain dan ia diperintah mengembalikan ke tempat berbaring tubuhnya, kuburnya disempitkan dan ia dibukakan pintu neraka. Oleh kerananya ia melihat tempat kediamannya kelak sampai datangnya hari kiamat. Dalam hal ini sebagaimana pernah disabdakan Nabi SAW, sehingga bahawasanya mereka mendengar suara sandal-sandal kalian, hanya saja mereka terhalang dari berkata.

Sebahagian Hukama’ ditanya tentang tempat roh-roh setelah mati, maka ia menerangkan sebagai berikut:

1. Bahawasanya roh-roh para Nabi berada dalam Syurga Adn, ia berada dalam liang yang menyenangkan tubuhnya. Adapun tubuh bersujud kepada Tuhannya.
2. Roh-roh para Syuhada berada di syurga Firdaus, pada tengahnya syurga itu berada dalam telih burung yang hijau yang terbang di syurga sekehendak hatinya. Kemudian datang keqanadil yang digantungkan di Arasy.
3. Adapun roh-rohnya anak-anak kecil yang Islam berada dalam telih burung pipitnya Syurga.
4. Roh-rohnya para anak-anak musyrik berputar-putar di syurga dan ia tidak punya tempat, sampai hari kiamat. Lalu mereka melayani para mukminin.
5. Roh-rohnya orang-orang mukmin yang mempunyai hutang dan aniaya digantung diangkasa. Ia tidak sampai ke syurga dan tidak pula ke langit sampai ia membayar hutangnya dan penganiayaannya.
6. Roh-rohnya orang-orang Islam yang berdosa diazab dalam kubur beserta tubuhnya.
7. Roh-rohnya orang-orang kafir dan munafik dalam penjara neraka Jahannam dipintakan diwaktu pagi dan petang.

Dan disebutkan, bahawasanya roh adalah merupakan jisim yang halus. Oleh kerana itu tidak dapat dikatakan jika Allah itu mempunyai roh. Sebab mustahil kalau Allah mempunyai tempat seperti jisim-jisim. Dan dikatakan bahawa roh adalah merupakan sifat dan dikatakan pula kalau ia pecah jadi angin, maka kedua perkataan ini adalah perkataannya orang yang mengingkari adanya seksa kubur.

Ada diceritakan, bahawasanya seorang Yahudi datang kepada Nabi SAW, maka mereka bertanya kepada baginda tentang roh dari Ashabi Raqim dan dari Raja Dzil Qarnain. Dengan perdebatan Yahudi itu maka turunlah surah Al-Kahfi.

Dan diturunkan tentang haknya roh adalah Firman Allah SWT.
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh, katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhanku.”

Depan Belakang Cermin

Oleh Eyang Hakimi

ah harus kecewa aku
punya rindu ternyata masih palsu
di cermin selain ada kata bayangan
tambah lagi kata semu
ah aku harus malu juga
cinta yang dengannya aku bangga punya
nyata-nyata hanya sebuah dusta
aku masih merayu untuk bisa bercumbu ria
hari usia penuh hiasan buah kenyal dari surga
di dada hawa tanpa beha
dan tundun bersemak keriting
di balik celana dalam warna ping

cuih….
jahanam ini diri jahanam diri ini
pantas terlempar ke kerak neraka
abadi abadi abadi abadi abadi...
s’lamanya s’lamanya s’lamanya s’lamanya s’lamanya…

huuuuuummm pikiran pikiran pikiran pikiran
jangan siksa aku antara hidup dan mati
aku tak pernah ajukan permintaan
aku tak punya hidup ini hidupmu
aku tak punya mati ini matimu
aku tak punya cumbu ini cumbumu
aku tak punya raba ini rabamu
aku tak punya gelinjang ini gelinjangmu
aku tak punya apa-apa ini apa-apamu

biarkan diri ini dalam malu
biarkan diri ini dalam cumbu
biarkan diri ini dalam kecewa
biarkan diri ini dalam dusta


kotabaru 11-2-09//12.19

Undangan Pantai Selatan

Oleh Dewi Maharani

Pukul 2 siang aku berjalan menyusuri hamparan padang pasir menuju arah selatan. Terik matahari yang menyengat kulit tiada pernah menghentikan kakiku yang melangkah berat sambil menendang - nendang pasir yang putih berkilau.Terus aku berjalan tanpa teman, tanpa niat .. hanya seakan - akan aku memenuhi sebuah undangan.

Laut pantai selatan ... mengundangku untuk datang bertandang. Tak nampak sesosok bayanganpun melintas di sana . Hanya pantai yang biasanya dihiasi ombak besar dan tinggi itu hari ini nampak begitu landai ... tenang .. tanpa angin .. tanpa ada tanda- tanda kehidupan.

Ku arahkan pandanganku ke timur, ada ombak di ujung sana. Aku ingin bermain - main dengan ombak . Namun ketika langkahku semakin ke timur .. ombak - ombak itupun menghilang dan pantai di depanku tetap melandai .. tenang ... tanpa angin.

Kembali ku arahkan pandanganku ke barat , yaa .. di sana aku melihat ombak besar berkejar - kejaran seakan memenggilku untuk datang . Aku berlari kegirangan seperti anak kecil yang melihat kawan - kawannya bermain.

Tapi semakin kukejar ke barat .. ombak itupun semakin berlari menjauh ke arah barat yang tiada bisa aku jangkau. Di depanku tetap pantai yang landai.

Dengan keputus asaan aku berpikir, mungkin pantai sengaja melandai untuk mengajakku berdamai . Berdamai dengan segala keangkara murkaan yang sedang menyesak di kepalaku . Perlahan tapi pasti ku langkahkan kaki terus keselatan menyambut salam kedamaian . Air pantai terasa begitu hangat menyambut kakiku yang semakin mantap melangkah hingga sebatas pinggang . Dan begitu takjubnya diriku ketika di depan mataku muncul kereta kencana dengan 12 ekor kuda gagah seakan menyambut kedatanganku.

Aku masih takjub memandang kagum kilauan emas yang menghiasi kereta kencana tak berkusir itu . Disaat niat hati untuk menaiki kereta indah itu .. tiba - tiba kudengar suara lantang memanggil namaku . Aku menoleh ke belakang . Nampak sesosok kakek tua tak berbaju , hanya mengenakan celana kusam hitam dan caping nelayan melambai - lambaikan tangannya ke arahku.

"Pulang nak !!! ... engkau salah jalaaan ... rumahmu ke utaraaaaaa ... bukan ke selataaaan !!!!! " teriakan kakek tua itu terdengar begitu jelas.

Aku masih terpaku di tempatku dengan air laut sebatas pinggangku. Kuda - kuda kereta kencana itu meringkik seakan memerintahku untuk segara naik. Kembali suara kakek itu lantang memanggilku " Pulaaang naaaak ..... lekas pulaaaaang !!! Engkau akan tersesat jika tetap di situuuu .. balikkan badanmuuuu ... dan jangan menoleh lagi ke belakaaang !!!"

Dan entah mengapa aku mengangguk dan menuruti perintah kakek tua itu. Aku berjalan ke utara tanpa ada keinginan untuk menoleh kebelakang.

Berat langkahku akhirnya sampai di daratan , namun aku masih terus melangkah sampai tepian padang pasir putih yang sudah tak lagi berkilau.

Kucari kakek yang memanggilku tadi , mataku berputar liar ... mulutku memekik namun tak seorangpun nampak bayanganya di sekelilingku.Dan ketika pandanganku mengarah ke pantai... ternyata pantai tak lagi landai. Ombak begitu besar dan tinggi disertai tiupan angin laut yang terasa mengerikan.

Tanpa berpikir seribu kali aku berlari .... aku terus berlari menjauh dengan seluruh ketakutanku. Ada suara tawa perempuan membahana di langit ... namun aku tak peduli . Aku terus berlari .... dengan menutup telinga dan memejamkan mata. Suara tawa itu makin jelas ... memenuhi langit . Aku tetap berlari .... sampai akhirnya aku benar - benar terjatuh di hamparan .....ah tempat tidurku.

Aku terbangun dengan napas sesak naik turun. Tubuhku basah bukan basah air laut tapi oleh peluh , dan tiupan kuat angin malam menerobos dari jendela kamarku yang terbuka.

Kuatur nafasku , bersyukur aku padaMu ya Tuhan ... ternyata aku hanya bermimpi.

Spore, 20 January 09
Dewi Maharani

Kau masih membawa wanita itu?

Oleh Eyang Hakimi

Matahari baru terbit. Sinarnya yang lembut belum cukup untuk mengeringkan tetes embun. Di depan pondoknya di pinggir hutan kakek itu membiarkan dadanya yang bidang dihangatkan oleh sinar matahari pagi. Usianya sudah lewat 60 tahun tapi karena kesehariannya ia adalah seorang guru silat, tubuhnya masih terlihat kekar. Otot-ototnya menampakkan kekuatan yang tersembunyi dalam raga wadagnya. Tak lama kemudian ia mengikat kepalanya dengan destar. Dan lengkaplah kegagahannya. Di dunia persilatan tak ada pesilat yang tidak tunduk kepadanya. Jangan kata pesilat dekat-dekat, pesilat dari seberang lautan yang sengaja datang untuk mencoba kedigjayaannya paling kuat bertahan hanya dalam 4 jurus.



Dia sangat disegani dalam dunia persilatan. Jujur, bijak, bajik, sederhana. Suaranya lembut ketika berbicara. Bertolak belakang dengan keadaan badannya yang menimbulkan kesan berkoar. Hari ini ia akan turun hutan (bukan turun gunung karena tidak tinggal di gunung). Ia masih menunggu murid kecilnya bangun. Ia membiarkan muridnya menyambung tidur setelah kegiatan mereka sejak dinihari hingga fajar tampak. Mengulang 40 jurus yang telah diajarkan oleh sang guru, ketika dingin pagi, dengan perut yang hanya diisi segelas air hangat dan sebongkah kecil gula merah, ketika anak-anak kecil seusianya masih lelap. Murid kecil ini memang berbakat. Tak ada keluhan yang keluar dari mulutnya, Jika gurunya memberi celah kesempatan yang dimintanya ialah izin untuk tidur.

Tak banyak yang bertahan lama menjadi murid. Disiplin yang tinggi, peraturan yang sangat ketat, membuat mereka kabur dari padepokan. Dan sang guru hanya senyum untuk semua kejadian itu. Pendekar ini sangat pinilih mengangkat murid. Tak sembarang orang tak sembarang anak. Banyak yang ditolaknya. Jika memaksa ia tidak menahan. Silakan tinggal di padepokan. Tapi memang pada awalnya sudah ditolak mereka yang memaksa itu kalah dalam serangan, tidak memenangi peperangan, bahkan tidak sedikit yang kalah sebelum berperang. Murid kecil yang satu ini punya cerita unik. Saat sang pendekar melakukan perjalanan ia lewat di sebuah desa, Di ujung kampung, dekat kuburan, ia melihat seorang anak sedang menangis terisak-isak. Ia berhenti dan dengan lembut ia bertanya.

“Mengapa kau menangis?”
“Saya sedih kek..”
“Hah, kau menyebutku kakek? Apakah aku sudah tua?”
“Sudah kek, rambut kakek, kumis kakek, jenggot kakek, sudah putih semua.”

Sang Pendekar terkesima. Ya, betul. Jika aku punya isteri, aku punya anak, dan anakku punya anak lagi, itu cucuku, dan aku ya kakek.

“Siapa namamu?”
“Johan.”
“Bapakmu?”
“Sadap”
“Ibumu?”
“Komariah”
“Ibumu di mana sekarang.”
“Di sana.”

Johan menunjuk ke sebuah tumpukan tanah sambil melap matanya dengan ujung lengan bajunya. Sementara ingus hijau meleleh dari hidungnya, mengalir lewat bibirnya. Tapi dengan sebuah hentakan isap ingus itu masuk kembali.

“Bapakmu”
“Pergi menyadap.”
“O, bapakmu tukang sadap aren, membuat gula aren?”
“Ya..”
“Di mana rumahmu?”
“Itu…”

Anak kecil itu menunjuk ke sebuah gubuk di seberang kuburan.

“Ayo antar aku ke rumahmu, aku ingin bertemu dengan bapakmu. Kebetulan aku juga perlu gula aren.”

Kedua orang itu –tampak sebagai kakek dan cucu- berjalan. Yang tua di depan.

“Johan, dulu aku pernah punya murid bernama Johan. Dia anak seberang, dari Malaka. Dia kusebut Johan Malaka. Kau mau tidak kuberi nama Johan Sedih. Aku beri nama itu karena aku bertemu denganmu ketika engkau merasa sedih. Kenapa kau merasa sedih?”
“Aku dipukuli anak kampung.”
“Wah, kenapa kau tidak melawan?”
“Aku takut.”

Sunyi sebentar. Terdengar langkah mereka di tanah becek pekuburan.

“Kakek siapa?”

Johan Sadap menggeliat. Ia terbangun. Sang Pendekar senyum dan tak lama kemudian ia sudah siap dengan kaneronnya. Melihat ini Johan Sadap sigap bangkit, dan siap berangkat juga. Mereka –masih tampak sebagai kakek dan cucu- berjalan beriringan. Yang tua di depan. Kebisuan dalam perjalanan akhirnya cair oleh suara Johan Sadap.

“Kalau sudah besar aku juga tidak akan punya isteri. Aku ingin seperti guru. Perempuan itu membuat tenaga kita lemah. Perempuan itu membuat “chi” kita bocor.”

“Johan!”
“Ya, guru.”
“Kamu tahu “chi” itu apa?”
“Tidak guru.”
“La, kamu bisa bicara begitu dari mana, mendengar dari siapa?”
“Kan guru yang bicara.”
“Kapan, di mana?”
“Di pondok, waktu ada Pendekar Toba.”
“O, ya. Aku ingat. Johan”
“Ya guru.”
“Lain kali jika ada tamu kau harus jauh-jauh dari pondok ya.”
“Ya, siap guru.”
“Aku tidak beristeri karena aku telah bersumpah, jangankan beristeri, menyentuhnyapun aku tidak akan.”

Johan Sadap diam. Ia paham nada bicara gurunya. Dalam keadaan seperti ini lebih baik diam. Sunyi kembali. Desir angin ditingkah siulan burung meramaikan irama langkah di jalan setapak yang mereka lewati.Matahari sepenggalah mereka sampai ke sungai. Kampung tak jauh lagi dari sungai ini. Jika sungai ini telah diseberangi dan mereka mekanjutkan perjalanan diperkirakan mereka akan sampai sekitar tengah hari. Tiba-tiba dari kejauhan terlihat seorang wanita. Wanita itu tampak bingung.

“Guru, ada wanita.”
“Ya, aku tahu.”
“Tunggu di sini.Aku akan ke sana.”
“Guru.”
“Tunggu di sini!”

Johan mengiringi langkah gurunya dengan pandangan matanya. Semakin jauh darinya tapi semakin dekat kepada wanita itu. Lalu ia kaget. Matanya tak berkedip. Ia melihat gurunya menggendong wanita itu ke seberang. Lalu gurunya menghampirinya lagi.

“Ayo, kita lanjutkan perjalanan. Gunakan deras arus ini untuk melatih kuda-kudamu agar kuat.”
“Guru..”
“Ayo!”

Dan Johan Sadap masih di tengah sungai ketika gurunya sudah duduk di sebuah batu di seberang sana. Tantangan ini harus kulewati. Aku harus bisa. Kalau mau guru bisa saja menggendongku. Wanita tadi jauh lebih besar dari aku. Tapi guru melatihku untuk tabah. Tak ada pohon yang tumbuh subur dengan pupuk minyak wangi, begitu kata guru. Dan ini adalah pupuk. Baru saja Johan Sadap sampai ke pinggir gurunya telah berdiri, siap untuk melanjutkan.

“Guru..”
“Kau kuat, ayo berangkat.”

Setelah mendaki bukit dan menuruni lembah lembah beberapa kali mereka sampai. Di ujung kampung mereka istirahat.


“Satu kali istirahat, sampai juga ‘kan?”
“Ya guru.”
“Kau tidak mati ‘kan?”
“Tidak guru.”
“Nah sebentar lagi kau akan bertemu dengan bapakmu.”
“Terima kasih guru.”
“Ayo, bangkit. Bapakmu rindu. Dua tahun ia tidak melihatmu.”
“Guru….”
“Apa?”
“Boleh Johan bertanya.”
“Tanya apa?”
“Guru bersumpah untuk tidak menyentuh wanita tapi tadi aku melihat guru menggendong wanita dan menyebarangkannya.”
“Johan..Johan…kau masih membawa wanita itu? Alangkah beratnya bebanmu.”

Murid kecil termangu-mangu. Butuh waktu yang lama bagi Johan Sadap untuk dapat memahami kata-kata gurunya.

Kotabaru, 19 Januari 2009.

A Faithful Woman vs. An Atheist

Once upon time in mBantul Jogyakarta lived an elderly faithful lady, Marsinah,
who was well-known for her faith and for her confidence in talking about it.
She would stand in front of her house and say "God be praised"
to all those who passed by.

Next door to her lived an atheist, Suyono, who would get so
angry at her proclamations he would shout, "There ain't no Lord!!"

Hard times came upon Marsinah, for the last two months she only ate “nasi aking”
(dried rice) and she prayed for God to send her some assistance.
She would pray out loud in her night prayer "Oh God! I need food!!
I am having a hard time, please Lord, PLEASE LORD, SEND ME SOME
GROCERIES!!"

One night Nyono happened to hear her as she was praying, and
decided to play a prank on her. The next morning Marsinah went out on her porch
and found a large bag of groceries.
She raised her hands and shouted, "God be praised!."

Nyono jumped from behind a bush and said, "Aha!
I told you there was no Lord. I bought those groceries, God didn't."

The old Marsinah laughed and clapped her hands and said, "GOD BE PRAISED.
He not only sent me groceries, but he made the devil pay for them!"

Pantun Rembulan

Jalan-jalan ke Kotabaru.
Jangan lupa membeli rambutan.
Kalau kamu anak baru.
Jangan lupa salam-salaman

Berderak-derak sangkutan dacing.
Bagaikan putus diimpit lumping.
Bergerak-gerak kumis kucing.
Melihat tikus membawa senapan.

Jalan-jalan ke kota Bandung.
Jangan lupa lewat simpang lima.
Kalau kamu anak badung.
Setidaknya ingatlah nasihat mama.

Bila ada jarum yang patah.
Jangan simpan dalam peti.
Bila ada kata-kataku yang salah.
Jangan simpan dalam hati.

Jalan jalan ke jakarta.
Jangan lupa beli pan.
Pergi mrantau tujuannya mncari wanita.
Tetapi malah dapat banci.

Jalan-jalan ke pulau Bali.
Jangan lupa melihat pantai Kuta.
Jika kalian ingin membeli.
Belilah barang bermutu di kota.

Jalan jalan ke kota paris
Melihat gedung berbaris-baris
Juliet mati di atas keris
Romeo datang menangis-nagis

Jalan jalan ke kota Jakarta.
Jangan lupa melihat monas.
Kalau kamu ingin pintar.
Janganlah engkau malas.

Beauty of Mathematics

Absolutely amazing!

1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321

1 x 9 + 2 = 11
12 x 9 + 3 = 111
123 x 9 + 4 = 1111
1234 x 9 + 5 = 11111
12345 x 9 + 6 = 111111
123456 x 9 + 7 = 1111111
1234567 x 9 + 8 = 11111111
12345678 x 9 + 9 = 111111111
123456789 x 9 +10= 1111111111